“Setiap kali suatu peradaban mencapai puncak dari kemerosotan, kita ada untuk mengembalikan keseimbangan ,Gotham tak bisa diselamatkan..,” –Ra’s Al Ghul
“Beri aku lebih banyak waktu, banyak orang baik disini..,” –Bruce Wayne a.k.a Batman
Para penggemar Film Batman Begins besutan sutradara terkenal, Christopher Nolan, mungkin sudah tidak asing lagi dengan beberapa nukilan dialog diatas. Percakapan tersebut berawal dari keinginan sang tokoh antagonis, Ra’s Al Ghul untuk menghancurkan kota Gotham yang sudah begitu korup. Namun keinginannya dihalangi oleh si tokoh utama, Bruce Wayne yang merasa bahwa Gotham masih bisa dibersihkan tanpa mengorbankan orang-orang baik didalamnya.
Naas, perkataan dari sang murid tak didengar oleh Ra’s Al Ghul. Nyatanya ia bersama pasukannya yang disebut “League of Shadow”, tetap melancarkan serangan ke Gotham. Akan tetapi, disaat itu pula Bruce Wayne bersama Kapten Jim Gordon, satu dari sedikit polisi protagonis di Gotham, berusaha menghentikan ambisi dari sang guru. Hingga akhirnya misi penghancuran oleh Ra’s Al Ghul dapat dihentikan dan League of Shadow pun lenyap bersama harapannya, komitmen keadilan tanpa rasa simpati.
Film bertema superhero yang selesai digarap pada tahun 2005 ini berhasil meraup keuntungan 372,7 juta dolar AS dan merajai papan atas perfilman di sejumlah bioskop kala itu. Selain berhasil meraih keuntungan secara komersil, film ini juga mendapatkan apresiasi lebih terkait dengan banyaknya dialog-dialog inspiratif dan bermakna dalam setiap scene-nya.
***
Kondisi yang digambarkan oleh si penulis cerita, dua bersaudara Christopher Nolan dan Jonathan Nolan, nyatanya tak jauh berbeda dengan apa yang Indonesia alami saat ini. Nolan mencoba menggambarkan keadaan suatu kota yang identik dengan kejahatan namun masih terdapat secuil kebaikan yang bisa merubahnya. Tentu saja dalam konteks wilayah yang lebih besar, Indonesia mengalami sedikit dari apa yang Gotham rasakan.
Masalah korupsi yang terjadi di Indonesia memiliki kemiripan berarti dengan yang terjadi di kota Gotham, yaitu seakan menjadi bahasan pokok dan tiada habisnya. Pendapat ini diperkuat Transparency International (TI) yang merilis dan menyatakan situasi korupsi di Indonesia menempati urutan ke 64 dari 177 negara paling korup untuk tahun 2013 (Transparency.org).
Pun begitu, Anti Corruption Clearing House (ACCH) juga merekap beberapa tabulasi data penanganan korupsi oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang pada awal tahun 2014 ini saja terdapat lebih dari 20 perkara.
![]() |
| Sumber: acch.kpk.go.id |
Hal ini menunjukkan bahwa menghentikan perilaku korupsi atau suap-menyuap di Indonesia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia (TII) Dadang Trisasongko menyebutkan, bahwa perkara korupsi sangat rawan terjadi di setiap institusi strategis, baik itu di bidang hukum, politik, maupun bisnis (kompas.com, “Stagnan, Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia 2013”, 3 Desember 2013). Artinya, bila ingin berubah, Indonesia musti memperkuat sistem integritas dan pengawasan yang lebih ketat terhadap institusi-institusi tersebut.
Selain permasalahan korupsi diatas, air mata ibu Pertiwi sudah pasti berlinang bila mengingat susahnya rakyat menyuarakan pendapat secara bebas di Indonesia. Walau ada undang-undang tertentu yang mengatur hal tersebut, namun kepentingan pribadi kerap menjadi jurang penghalang yang memisahkan antara suara kepentingan rakyat dengan dirinya sendiri.
Hal serupa juga pernah dialami oleh Helen, salah satu tokoh protagonis Batman Begins yang berperan sebagai jaksa Gotham dan sahabat masa kecil Bruce Wayne. Wanita berparas manis ini diteror habis-habisan karena keberaniannya mengungkap segala bentuk korupsi dan kejahatan di kota Gotham. Helen dengan lantang bersuara keras di tengah diamnya para jaksa yang setiap perkataannya telah disuap oleh para birokrat korup dan para penjahat yang mengejek hukum di masyarakat.
***
Disaat keadaan Gotham semakin kelam dan terpuruk. Bruce Wayne pun muncul dengan seragam Batman-nya. Bruce berhasil mengakibatkan para penjahat ketakutan dan membuat keadaan kota Gotham menjadi semakin bersih dan stabil. Masyarakat mulai mengagungkan “Batman” sebagai simbol dari keadilan dan harapan. Hal inilah yang menjadi tujuan Bruce Wayne sejak awal, ia berpendapat bahwa setiap orang bisa menjadi “Batman”, hanya metode dan langkah yang dihasilkan dan dilakukan saja yang berbeda.
Permasalahan-permasalahan pelik di Gotham yang bisa diselesaikan apabila keadilan dan harapan dapat bersatu, tentu dapat diimplementasikan di Nusantara dengan menghubungkan antara Batman, Gotham dan Indonesia. Sang Garuda membutuhkan representasi dari seorang “Batman”, yaitu seorang yang memiliki jiwa keadilan dan harapan perubahan bagi Indonesia yang lebih baik kedepannya.
Tukang becak yang mencari sesuap nasi ataupun nafkah adalah “Batman” bagi keluarganya. Siswa SD yang malu dan tak mau menyontek pekerjaan temannya di sekolah adalah “Batman” bagi masa depan negaranya. Mahasiswa pemikir dan penghasil perubahan adalah “batman” bagi kebaikan Indonesia. Kita semua adalah “Batman”, bukan bagi Gotham, tetapi bagi negeri tercinta, Indonesia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar