Aceh, suatu tempat nan elok di ujung barat pulau Sumatra, memiliki kisah kelam tersendiri di masa lampau. Bencana gempa dan tsunami pada 26 desember 2004 yang meluluhlantakkan serambi mekah ini, seakan menambah derita rakyat Aceh yang sebelumnya sempat dirundung gelisah akan konflik yang berkepanjangan.
Setelah bencana yang menewaskan lebih dari 300.000-an jiwa ini menerjang, Aceh harus mulai belajar merangkak di segala bidang. Termasuk di bidang perekonomian dan keamanan. Aceh disebut-sebut telah mati, dan terlahir kembali menuju perubahan yang lebih nyata dan terjamin.
9 tahun telah berlalu, ibukota Aceh, Banda Aceh kini berkembang menuju kota metropolitan. Mal-mal dan gedung-gedung perbelanjaan tumbuh bak jamur di musim hujan. Pasca kejadian tsunami, memang Aceh dirasa lebih terbuka, para pendatang yang dulunya dilingkupi rasa was-was jika ingin berinvestasi di Aceh, mulai berhamburan datang dan membantu aceh bangkit dari keterpurukan.
Dulunya, warga luar kerap harus memutar pikiran berkali-kali untuk berusaha di Aceh. Bahkan, beberapa hari pasca bencana tersebut melanda, bantuan luar pun sempat kesulitan masuk ke Aceh, hingga akhirnya, setelah dilingkupi rasa keterpurukan yang mendalam, GAM dan Pemerintahan Indonesia pun melakukan salam perdamaian berbentuk Mou.
Konsep perdamaian dalam bingkisan “aceh aman, ibadah nyaman” mulai digaungkan. Pembenahan-pembahan dari segi infrastruktur dan moral mulai dicanangkan. Pedatang luar mulai berdatangan. Daerah ini pun siap bangkit, Aceh menuju perubahan.
***
Tentu saja tak lekang dari ingatan Basyariah (36), salah seorang penjual kaki lima buah-buahan di kawasan darussalam, ketika tsunami menerjang, seluruh harta bendanya ikut raib ditelan gelombang, . Ibu beranak enam ini, harus menelan pil pahit, selain harus kehilangan salah seorang anaknya, ia juga harus kehilangan laba usaha yang jauh-jauh hari sebelumnya ia kumpulkan.
Dulu, beberapa bulan pasca tsunami, ia sempat menikmati bantuan yang diberikan oleh pemerintah. Namun seiring berjalannya waktu, bantuan itu kini tidak lagi terima. Kini, dana untuk pengembangkan usaha pun tak pernah sampai ditangannya. Usaha kaki lima nya harus kalah saing dengan usaha-usaha perekonomian yang bersifat modern.
“Ureung lawet nyoe leubeh galak jak ue tempat-tempat mewah daripada jak meubloe keuno (orang sekarang lebih memilih berbelanja di tempat mewah dibanding berbelanja disini) ,” ungkapnya sembari menunjuk tak menentu, seakan menegaskan bahwa “tempat-tempat mewah” tersebut terletak dimana saja.
Naas, pasca tsunami pun kini nasibnya tak jauh beda , atau bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Ia hanya jadi penonton bagaimana perekonomian aceh bangkit, dari raut wajahnya sendiri masih terlihat jelas menegaskan bahwa ia menjadi representasi model bagaimana sebagian rakyat aceh masih teradiksi dalam lakon yang bernama perubahan.
***
Kisah singkat aisyah tadi adalah satu dari sekelumit cerita buram yang menjadi rapor merah rekonstruksi pasca tsunami.
9 tahun telah berjalan, aceh mulai harus terus berbenah diri. Perekonomian adalah salah satu hal yang paling urgensi untuk diperhatikan. Masih banyak warga aceh yang berstatus sebagai korban tsunami masih terpuruk tanpa ada harapan yang berusaha membangkitkan.
Keterbukaan Aceh terhadap dunia luar diharapkan dapat membangkitkan kembali masa kejayaan aceh tanpa menumbalkan korban-korban yang menjadi saksi bisu bencana alam terbesar dalam satu dekade terakhir ini.
Perjudian memang tetap ada, Untuk mencetak “goal” memang diperlukan para “striker” luar yang umumnya bermodal kuat, tapi bisa saja mereka terlalu “offside” atau bahkan membuat “blunder”, umpan lambung telah lama diberikan, posisi “striker” adalah milik kita bersama.
That’s our goal, jangan sampai pemain lokal hanya menonton sambil menghangatkan bangku cadangan. jangan hanya seperti “buya krueng teudong-dong, buya tamong yang meuraseuki”.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar